Konvergensi IFRS

Nama       : Celi Carose

Kelas       : 4eb14

Npm        : 20207227

 

KONVERGENSI IFRS

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada hari ini Selasa, 23 Desember 2008 dalam rangka Ulang tahunnya ke-51 mendeklarasikan rencana Indonesia untuk convergence terhadap International Financial Reporting Standards (IFRS) dalam pengaturan standar akuntansi keuangan. Pengaturan perlakuan akuntansi yang konvergen dengan IFRS akan diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan entitas yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012. Hal ini diputuskan setelah melalui pengkajian dan penelaahan yang mendalam dengan mempertimbangkan seluruh risiko dan manfaat konvergensi terhadap IFRS. Compliance terhadap IFRS memberikan manfaat terhadap keterbandingan laporan keuangan dan peningkatan transparansi. Melalui compliance maka laporan keuangan perusahaan Indonesia akan dapat diperbandingkan dengan laporan keuangan perusahaan dari negara lain, sehingga akan sangat jelas kinerja perusahaan mana yang lebih baik. Selain itu, program konvergensi juga bermanfaat untuk mengurangi biaya modal (cost of capital), meningkatkan investasi global, dan mengurangi beban penysusunan laporan keuangan.

International Financial Reporting Standards (IFRS) dijadikan sebagai referensi utama pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia karena IFRS merupakan standar yang sangat kokoh. Penyusunannya didukung oleh para ahli dan dewan konsultatif internasional dari seluruh penjuru dunia. Mereka menyediakan waktu cukup dan  didukung dengan masukan literatur dari ratusan orang dari berbagai displin ilmu dan dari berbagai macam jurisdiksi di seluruh dunia. Dengan telah dideklarasikannya program konvergensi terhadap IFRS ini, maka pada tahun 2012 seluruh standar yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan  IAI akan mengacu kepada IFRS dan diterapkan oleh entitas. Dewan standar akuntansi keuangan pada kesempatan ini juga akan menerbitkan Eksposur draft Standar Akuntansi Keuangan Usaha Kecil dan Menengah.  Standar UKM ini akan menjadi acuan bagi usaha kecil dan menenggah dalam mencatat dan membukukan semua transaksinya.

DSAK juga akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan pencatatan dan pelaporan keuangan transaksi syariah, yang terus berkembang di tanah air.Konvergensi terhadap IFRS merupakan milestone baru dari serangkaian milestone yang pernah dicapai oleh Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia dalam sejarah perkembangan profesi akuntansi, khususnya dalam pengembangan standar akuntansi keuangan.  Pasalnya, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada tanggal 23 Desember 2008 telah mendeklarasikan rencana Indonesia untuk melakukan konvergensi IFRS ke dalam Pernyataan Standar Akuntansi KeuanganI(PSAK). Hasil konvergensi ini akan diberlakukan di Indonesia mulai 1 Januari 2012. Tentu keputusan ini telah didahului dengan pengkajian dan penelaahan yang mendalam mengenai resiko, manfaat dan biaya konvergensi terhadap IFRS. Tentu konvergensi ini juga disesuaikan dengan iklim bisnis Indonesia.

Konvergensi IFRS mengakibatkan perubahan standar akuntansi menjadi berbasis prinsip (principle based) bukan lagi berbasis aturan (rule based). Pengaturan berbasis prinsip ini bertujuan untuk memenuhi tujuan dari IFRS yaitu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global. Pengaturan akuntansi di Indonesia sebelum konvergensi IFRS merupakan pengaturan yang kebanyakan diambil dari US GAAP (standar akuntansi Amerika). US GAAP merupakan standar akuntansi yang rule based dan cukup powerful di negaranya. Hal ini dikarenakan standar ini memang diciptakan dengan tujuan untuk mengatur berbagai praktik akuntansi dan instrumen keuangan yang muncul di Amerika. Kita tahu bahwa amerika adalah negara yang perekonomiannya menggunakan liberalisme pasar (kapitalisme murni) yang mana perekonomiannya dikendalikan oleh pasar (entitas penjual dan pembeli).

Konvergensi IFRS akan menyebabkan PSAK menjadi bersifat principle-based. Kondisi ini membutuhkan prosessional judgment. Jadi, nantinya akuntan dituntut untuk memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi dalam menyusun laporan keuangan. Sehingga output tersebut dapat digunakan oleh decision maker dalam mengambil keputusan yang tepat.

Beberapa dampak yang timbul dari konvergensi IFRS terhadap PSAK:

1. Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunaan balance sheet approach dan fair value

2. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar

3. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan entitas akan lebih mudah dikomunikasikan kepada investor global

4. Penggunaan off balance sheet akan menjadi semakin terbatas

v  Kas , piutang , utang, ekuitas à Instrumen keuangan PSAK 50 dan 55

v  Persediaan à PSAK 14, LIFO tidak boleh

v  Aset Tetap à PSAK 16

v  Aset tak berwujud à PSAK 19

 

Aset Tetap

Suatu aset tetap yang dimiliki entitas pada suatu ketika ada kemungkinan untuk diperbaiki atau direhabilitasi. Dalam standar akuntansi, jika suatu aset tetap tersebut diperbaiki (memulihkan fungsinya tanpa ada peningkatan umur atau manfaat ekonomik), maka biaya-biaya terkait perbaikan itu dibebankan sebagai beban perawatan atau perbaikan. Pengeluaran biaya ini disebut sebagai revenue expenditure. Namun, jika aset tetap tersebut direhabilitasi (meningkatkan umur atau manfaat ekonomik), maka biaya-biaya terkait rehabilitasi tersebut dikapitalisasi (menambah nilai buku aset tetap). Pengeluaran biaya ini disebut sebagai capital expenditure.

Secara standar akuntansi, penambahan biaya rehabilitasi aset tetap ke nilai buku aset tetap ini tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun dalam praktik dan kuliah akuntansi, terdapat dua perlakuan yang berbeda. Jika rehabilitasi menambah manfaat ekonomik (dalam bentuk fungsi atau kapasitas), maka biaya rehabilitasi ditambahkan ke nilai aset tetap dalam neraca. Namun, jika rehabilitasi menambah umur ekonomik, maka biaya rehabilitasi digunakan sebagai pengurang akumulasi depresiasi.

v  Komponen biaya perolehan adalah estimasi biaya untuk memindahkan aset (dismantling cost).

v  Suku cadang dengan kriteria tertentu diakui sebagai aset tetap

v  Penilaian aset tetap à dikurangi dengan depresiasi dan penurunan nilai

v  Pertukaran aset tetap tidak membedakan similar atau non similar, menggunakan harga wajar. Kecuali pertukaran yang tidak memiliki nilai komersial atau nilai wajar tidak diperoleh à nilai buku.

v  Review atas masa manfaat, nilai residu setiap pelaporan

v  Penilaian dengan menggunakan model revaluasi.

Persediaan

v  Biaya perolehan terkait selisih valuta asing yang terkait pembelian persediaan dapat diakui sebagai biaya perolehan persediaan.

v  Nilai persediaan tidak termasuk pembayaran yang ditagihkan kepada pihak ketiga contoh pajak.

v  Biaya perolehan persediaan secara tangguh diatur dan dapat menimbulkan beban bunga.

v  Persediaan disajikan di neraca sebesar nilai terendah antara harga perolehan dan nilai realisasi bersih

v  Metode LIFO tidak diperkenankan lagi

v  Perlu dipertimbangkan untuk tidak mengajarkan konsep advance LIFO, cukup sampai LIFO reserve

Aset Keuangan

o   Kas

o   Instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas lain

o   Hak kontraktual:

§  untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain; atau

§  untuk mempertukarkan aset keuangan dengan entitas lain dengan kondisi berpotensi untung; atau

o   Kontrak yang akan diselesaikan dengan penerbitan instrumen ekuitas entitas

§  nonderivatif

§  derivatif

Kriteria:

§  Aset keuangan non derivatif;

§  Ditetapkan sebagai AFS;

§  Tidak diklasifikasikan sbg:

·         pinjaman yang diberikan/piutang,

·         dimiliki hingga jatuh tempo, atau

·         dinilai pada nilai wajar melalui L/R.

o   Signifikansi instrumen keuangan terhadap posisi dan kinerja keuangan.

o   Pengungkapan hirarki nilai wajar

§  Tingkat 1 harga kuotasi asar

§  Tingkat 2 Input selain harga kuotasian (dapat diobservasi)

§  Tingkat 3 Input yang bukan berdasar harga pasar

o   Jenis dan tingkat risiko yang timbul dari instrumen keuangan

§  Pengungkapak kualitatif (ekposure timbulnya risiko, tujuan, kebijak dan proses penelolaan risiko)

§  Pengungkapan kuantatif (risiko kredit, risiko likuiditas, analisa sensitivitas)

Kas dan Piutang – PSAK 50 & 55

§  Pada pengakuan awal menggunakan nilai wajar. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung:

§  Dibebankan untuk aset keuangan atau kewajiban keuangan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan menambah nilai perolehan untuk lainnya

§  Pengukuran aset keuangan

•         Nilai wajar

•         Biaya diamortisasi

•         Biaya  (penggunaan terbatas hanya jika nilai wajar tidak dapat ditentukan)

§  Penyisihan piutang à mengikuti aturan penurunan nilai instrumen keuangan, berdasarkan bukti obyektif pada tanggal neraca.

§  Reklasifikasi antar instrumen mengikuti aturan tainting rule.

§  Derecognition  kombinasi pendekatan risk  & reward dan control. Evaluasi atas risk and  reward dilakukan terlebih dahulu setelah itu baru transfer of control

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: