Jurnal Akuntansi

ABSTRAK

ANALISIS TITIK IMPAS DALAM MERENCANAKAN LABA PADA CV. HARA COLLECTION

Titik Impas atau Break Event Point merupakan salah satu unsur terpenting dalam kelangsungan suatu kegiatan usaha. Setiap kegiatan usaha yang dilakukan oleh orang atau perusahaan dagang, dalam hal ini CV.HARA COLLECTION, memiliki tujuan untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Disinilah peran Break Even Point sangat diperlukan, karena dengan mengetahui kondisi break event, baik dalam kuntitas produk maupun dalam nilai rupiah dari suatu produk yang dihasilkan oleh perusahaan, kita dapat mengetahui bahwa perusahaan dalam kondisi tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. Oleh sebab itu, penulis merasa tertarik untuk mengambil Titik Impas sebagai tema dalam penulisan ilmiah ini dan penulis menggunakan CV. HARA COLLECTION sebagai obyek penelitian untuk keperluan penulisan ilmiah ini.

Penulis mempunyai tujuan untuk menghitung laba yang diperoleh perusahaan pada bulan Februari 2010, kemudian mencari nilai break even. Setelah itu penulis juga menghitung jumlah produksi minimal yang harus terjual di bulan Maret 2010 agar mencapai target laba yang telah direncanakan oleh perusahaan. Untuk mendukung perhitungan yang telah dilakukan, penulis meminta data-data keuangan kepada CV. HARA COLLECTION dengan menggunakan teknik wawancara.

Setelah penulis melakukan penelitian dengan menggunakan analisis titik impas terhadap CV. HARA COLLECTION, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa perusahaan berhasil memperoleh laba yang cukup bagus pada bulan Februari 2010 dan penulis juga telah menghitung nilai break evennya. Kemudian penulis juga telah menghitung jumlah produksi minimal yang harus terjual dengan komposisi yang telah direncanakan agar target laba yang telah diharapkan dapat tewujud.

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Pada umumnya dari sekian banyak perusahaan yang ada masih banyak diantaranya belum dapat melihat adanya manfaat dari perhitungan dan penggunaan titik impas. Manajemen perusahaan semacam ini kadang-kadang masih melihat penyusunan perhitungan dan penggunaan titik impas dalam perusahaan semata-mata merupakan beban bagi perusahaan tersebut.

Maka dari hal semacam ini, kita harus tahu bagaimana manajemen melakukan kegiatan pokoknya dalam perencanaan perusahaan, yaitu memutuskan berbagai macam alternatif dan perumusan kebijakan yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang. Ukuran yang dipakai untuk menilai berhasil atau tidaknya manajemen perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan. Laba terutama dipengaruhi oleh tiga faktor : volume produk yang dijual, harga jual produk, dan biaya.

Biaya menentukan harga jual untuk mencapai tingkat laba yang dikehendaki. Harga jual mempengaruhi volume penjualan, volume penjualan langsung mempengaruhi volume produksi, dan volume produksi mempengaruhi biaya. Hubungan antara biaya, volume, dan laba sangat penting dalam perencanaan jangka pendek yang diperlukan oleh manajemen untuk menilai berbagai kemungkinan yang berakibat laba akan datang.

Analisis titk impas merupakan teknik perencanaan laba jangka pendek atau dalam satu periode akuntansi tertentu atau dalam satu tahun dengan mendasarkan analisanya pada variabilitas penghasilan penjualan maupun biaya terhadap volume kegiatan sehingga teknik-teknik tersebut akan dapat dipergunakan dengan baik sebagai alat perencanaan laba dalam jangka pendek.

Dengan bantuan analisa dari titik impas ini diharapkan manajemen perusahaan dapat menggambarkan tingkat perencanaan dalam sebuah kegiatan.

Sehingga para usahawan itu sendiri dapat menembah investasi bagi perusahaannya sendiri. Oleh sebab itu penulis mengambil judul “ANALISIS TITIK IMPAS DALAM MERENCANAKAN LABA PADA CV. HARA COLLECTION.”

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan keadaan di atas, penulis merumuskan masalahnya pada bagaimana analisis Break Even Point pada CV. HARA COLLECTION.

1.3 Batasan masalah

Penulis membatasi penulisannya pada analisis Break Even Point penjualan pakaian anak-anak ukuran (M) pada CV.HARA COLLECTION bulan Februari 2010.

1.4     Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pada tingkat volume penjualan berapa perusahaan mencapai titik impas.
  2. Untuk mengetahui sampai tingkat berapa volume penjualan boleh mengalami penurunan namun tidak mengalami kerugian.
    1. Untuk mengetahui pada tingkat penjualan berapakah perusahaan sebaiknya menghentikan usahanya karena mengalami kerugian.
    2. Untuk mengetahui berapa besar laba yang akan diperoleh perusahaan dengan target laba yang telah ditentukan untuk bulan Maret 2010.

1.5 Metode penelitian

Untuk mengetahui dan memahami tentang kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam menggunakan titik impas dalam merencanakan laba, penulis berusaha mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan guna penulisan ilmiah ini. Adapun metode pengumpulan data tersebut adalah

1.  Riset kepustakaan (Library research)

Untuk pengkajian lebih dalam, penulis mengumpulkan data yang bersumber dari buku-buku ilmiah yang mempunyai kaitannya dengan penulisan ilmiah ini sebagai acuan, di samping materi yang didapat semasa kuliah.

  1. Riset lapangan (Field research)

Penulis melakukan wawancara dengan cara menghubungi pihak-pihak yang berkompeten dengan masalah ini pada tanggal 10 April 2010 di CV. HARA COLLECTION Jakarta. Wawancara ini penulis lakukan untuk menciptakan data-data yang diperlukan dalam penulisan ilmiah ini.

1.6 Sistematika penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas pada setiap permasalahan yang hendak dibahas serta kaitannya antara satu dengan yang lainnya di samping mempermudah pemecahan masalah dan pengertian-pengertian, maka diterangkan rangkaian penulisan ilmiah ini yang terdiri dari 5 bab, adapun bab-bab tersebut adalah sebagai berikut:

Bab  I  : Pendahuluan

Pada bab ini penulis membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab  II : Landasan teori

Bab ini menguraikan tentang pengertian dan penggolongan biaya,   pengertian dan perhitungan cara mendapatkan BEP serta elemen yang mempengaruhinya.

Bab III :Kondisi perusahaan

Hal-hal yang dibahas dalam bab ini meliputi sejarah perusahaan, bidang usaha perusahaan, struktur organisasi perusahaan, dan proses produksi.

Bab IV : Analisa data

Bab ini adalah inti dari penulisan ilmiah ini dan dalam bab ini diuraikan tentang perhitungan pada volume penjualan tingkat berapakah perusahaan  mengalami BEP.

Bab V : Penutup

Dalam bab ini penulis berusaha menarik kesimpulan atas keseluruhan isi uraian dan pembahasan masalah yang ada dalam penulisan ilmiah, juga memberi saran yang dianggap perlu dan tentunya dapat dilakukan perusahaan untuk dapat memecahkan masalah.

BAB III

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1. Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan

CV. Hara Colletion didirikan pada tanggal 20 Februari 1994. Pada awalnya usaha yang dijalani oleh Ibu Silvi bekerja sama dengan salah seorang pedagang pasar Tanah Abang asal Nigeria yang menjual berbagai jenis pakaian anak.

Usaha ini awalnya beroperasi sesuai permintaan pelanggan dan berlanjut pada perdagangan impor (lokal) dan ekspor, namun usaha ini juga tidak selalu berjalan sesuai harapan, yang dikarenakan susahnya dalam mencari pelanggan dan pangsa pasar yang luas.

Pada awalnya, CV. Hara Collection mendapatkan sebuah modal kredit yang diperolehnya dari pelanggan lain di Tanah Abang . Modal tersebut berupa bahan kain codoray yang diperoleh secara bertahap. Dari modal tersebut CV. Hara Collection dapat mengembalikannya dengan cara bahan tersebut dibuat pakaian anak sesuai dengan pesanan dan kemudian hasil dari penjualan tersebut dipotong untuk pembayaran kredit.

Pada mulanya, CV. Hara Collection menggunakan empat buah mesin jahit yang berukuran besar dan kecil dan satu mesin obras serta satu buah mesin rajut, juga  mempekerjakan karyawan sebanyak 5 orang, dengan menempati sebuah rumah yang terletak di Jalan Warung Jati Gg Mushalla AL-Barkah No.10 Kalibata Jakarta Selatan.

Pada perkembangan selanjutnya karena order yang semakin meningkat diperlukan tambahan mesin dan segala perlengkapannya untuk mencukupi kapasitas permintaan. Maka pada tahun 2000 CV. Hara Collection mulai menambah mesin jahit menjadi 12 buah dan menggantikan mesin lama menjadi menjadi baru, serta mempekerjakan karyawan sebanyak 14 orang dimana untuk karyawan tersebut diperlakukan dengan pembayaran upah harian serta karyawan staf digaji dengan gaji bulanan.

Pada saat terjadinya krisis moneter yang lalu, CV. Hara Collection juga mengalami hambatan karena banyak pelanggan yang tidak melakukan transaksi, sebagai dampaknya tidak memperoleh order. Oleh karena itu pemilik mulai mencari peluang pasar yang lainnya yaitu mencoba memproduksi pakaian anak dengan berbagai jenis model dan warna.

3.2. Struktur Organisasi Perusahaan

  1. Direktur

Bertanggung jawab terhadap aktifitas ekstern/intern baik bidang hukum maupun bidang teknis lainnya.

  1. Kepala Produksi

Bertanggung jawab dalam mempelajari produk yang akan di produksi juga mengawasi kualitas proses produksi sesuai dengan ukuran yang dikehendaki pembeli.

Kepala Produksi membawahi 3 sub bidang supervisor yaitu :

v  Bagian pemotongan

v  Bagian penjahitan

v  Bagian penyelesaian (packing)

  1. Kepala Marketing

Bertanggung jawab dalam mengkoordinasi kegiatan mencari order baik lokal maupun ekspor.

  1. Kepala Keuangan

Bertanggung jawab mengelola system finance baik dari pendapatan maupun pengeluaran, bagian ini merupakan parameter/alat ukur dalam menilai suatu jalannya perusahaan dari sudut financial.

Gambar 3.1

Struktur Organisasi Perusahaan

Direktur

Sumber : CV. Hara Collection

3.3. Jenis-jenis Produksi

Jenis-jenis pakaian yang diproduksi oleh CV. Hara Collection adalah :

  • Satu stel pakaian anak tanpa topi ukuran Small, Medium dan Large.
  • Satu stel pakaian anak dengan topi ukuran Small, Medium dan Large.
  • Satu stel pakaian anak dengan model terusan ukuran Small, Medium dan Large.

Pada saat ini, permintaan akan pakaian anak tanpa topi lebih banyak dibandingkan dengan yang lain, sehingga perusahaan menargetkan untuk memproduksi pakaian anak tanpa topi tersebut.

3.4. Bahan dan Proses Produksi

Adapun bahan pembuatan pakaian anak tanpa topi adalah sebagai berikut :

v  Bahan Codoray

v  Benang

v  Kancing

v  Bahan kotak-kotak

Pada dasarnya pelaksanaan proses produksi di CV. Hara Collection terdiri dari berapa tahap :

  1. Tahap Pola dan potong : Bagian ini bertugas untuk membuat pola pada pakaian anak dan memotong bahan sesuai dengan model yang telah ditentukan.
  2. Tahap Penjahitan : Bagian ini bertugas menjahit bahan yang telah dipotong menjadi pakaian anak sesuai dengan pola yang ditentukan.
  3. Tahap Finishing : Bagian ini bertugas memasang kancing, melengkapi jika ada kekurangan menyetrika pakaian tersebut, lalu dimasukan kedalam kemasan plastik.

\

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diperlihatkan perhitungan data-data yang diperoleh  dari CV. HARA COLLECTION. Dimana data-data tersebut  akan dipisahakan menurut biaya variabel dan biaya tetapnya untuk kemudian dihitung besarnya harga jual, laba bulan Februari  2010, perhitungan Break Even Point (BEP) berserta pembuktiannya, perhitungan Margin of Safety (MOS), perhitungan Shut Down Point, dan besarnya laba sasaran.

4.1 Perincian Biaya Produksi

Berikut ini adalah perincian biaya produksi untuk membuat 8.000 unit pakaian anak-anak ukuran S, M, dan L.

1.  Biaya Bahan Baku

Tabel 4.1

Biaya Bahan Baku

Pakaian Anak CV. HARA COLLECTION

Februari 2010

No BAHAN KUANTITAS HARGA TOTAL
1 Cododray 7.500  m Rp   6.500 Rp 48.750.000
2 Kain kotak-kotak 2.500  m Rp   6.500 Rp 16.250.000
3 Benang 65 ps Rp   4.000 Rp      260.000
4 Kancing 6.000 ps Rp      175 Rp   1.050.000
Jumlah Rp 66.310.000

Keterangan :    # 1 meter : Rp 6500

2.  Biaya Tenaga Kerja

Tabel 4.2

Biaya Tenaga Kerja

Februari 2010

No BIAYA TENAGA KERJA TOTAL
1 1   Orang pengobras Rp 100 X8.000 unit Rp        800.000
2 10 Orang penjahit Rp 1.500 X 8.000 unit Rp 120.000.000
3 1   Orang perajut Rp 100 X 8.000 unit Rp        800.000
4 1   Orang pemotong Rp 200 X 8.000 unit Rp     1.600.000
5 Penyulam Rp 500 X 8.000 unit Rp     4.000.000
Jumlah Rp 127.200.000

  1. 3. Biaya Overhead Pabrik

a. Biaya Bahan Penolong

Tabel 4.3

Biaya Bahan Penolong

BIAYA BAHAN PENOLONG

TOTAL

Plastik

Rp      400.000
Jarum Rp        80.000

JUMLAH

Rp      480.000

Keterangan :    # 1 Kg plastik Rp 10.000, isi 200 plastik.

Plastik untuk 8000 unit = 40 Kg x Rp 10.000                                              =  Rp 400.000

#  Jarum untuk 8000 unit  =  80 x Rp 1.000

=  Rp 80.000

b.     Biaya Depresiasi

v Biaya Depresiasi Mesin Jahit

Biaya penyusutan 10 mesin jahit diperkirakan sama untuk setiap tahunnya. Karena Mesin jahit didepresiasikan dengan menggunakan metode garis lurus.

Besarnya penyusutan per tahun dihitung dengan rumus :

Harga Perolehan – Nilai Sisa

Penyusutan per tahun     =

Umur Ekonomis

950.000  –  0

=

5

Penyusutan per tahun      =            Rp. 190.000

Penyusutan per bulan     =  Rp 190.000/12   =  Rp 15.800

Penyusutan 10 mesin jahit  per bulan  =   Rp 158.000

Biaya Depresiasi Mesin Obras

Biaya Penyusutan 1 mesin obras diperkirakan sama untuk setiap tahunnya. Karena mesin obras didepresiasikan dengan menggunakan metode garis lurus.

Besarnya penyusutan per tahun dihitung dengan rumus :

Harga Perolehan – Nilai Sisa

Penyusutan  per tahun    =

Umur Ekonomis

3.500.000    –    0

=

5

Penyusutan per tahun      =          Rp 700.000

Penyusutan per bulan =       Rp 700.000/12  =     Rp 58.300

Biaya Depresiasi Mesin Rajut

Biaya penyusutan mesin rajut diperkirakan sama untuk setiap tahunnya. Karena mesin rajut didepresiasikan dengan menggunakan metode garis lurus.

Besarnya penyusutan per tahun dihitung dengan rumus :

Harga Perolehan – Nilai Sisa

Penyusutan  per tahun    =

Umur Ekonomis

315.000    –    0

=

5

Penyusutan per tahun      =          Rp 63.000

Penyusutan per bulan =       Rp 63.000/12  =       Rp 5.250

Biaya Depresiasi Mesin Potong

Biaya penyusutan mesin potong diperkirakan sama untuk setiap tahunnya. Karena mesin potong didepresiasikan dengan menggunakan metode garis lurus.

Besarnya penyusutan per tahun dihitung dengan rumus :

Harga Perolehan – Nilai Sisa

Penyusutan  per tahun    =      =

Umur Ekonomis

3.500.000    –    0

=

5

Penyusutan per tahun      =          Rp 700.000

Penyusutan per bulan =       Rp 700.000/12  =      Rp 58.300

Tabel 4.4

Biaya Depresiasi

Februari 2010

No BIAYA DEPRESIASI TOTAL
1 10 Mesin Jahit Rp 158.000
2 1   Mesin Obras Rp   58.300
3 1   Mesin Rajut Rp     5.250
4 1   Mesin Potong Rp   58.300
Jumlah Rp 279.850

  1. c. Biaya Sewa Gedung

Untuk Biaya Sewa Gedung Perusahaan melakukan pembayaran pada awal bulan dengan tingkat harga sewa sebesar :   Rp 8.496.000 / 12 = Rp 708.000 per bulan

  1. d. Biaya Listrik

Untuk Biaya Listrik merupakan biaya Semi variable yang terdiri dari :

Biaya Tetap  ( biaya abudemen )   = Rp   50.700

Biaya Variabel ( pemakaian )        = Rp  213.750

Jumlah                                Rp 264.450

  1. e. Biaya Telpon

Untuk Biaya Telpon sama seperti Biaya Listrik yang merupakan biaya semivariabel dimana biaya tersebut mempunyai dua golongan biaya :

Biaya Tetap ( abudemen ) = Rp   30.100

Biaya Variabel ( pemakaian ) = Rp 238.800

Jumlah Rp 268.900

4.2  Penggolongan Biaya Tetap dan Biaya Variabel CV. HARA COLLECTION Februari 2010

±  Biaya Tetap

Biaya Tetap yang dikeluarkan perusahaan adalah :

Biaya Over Head Pabrik

ü  Biaya Sewa Gedung                                    Rp   708.000

ü  Biaya Depresiasi                                          Rp   279.850

Total Biaya Tetap                                                  Rp   987.850

±  Biaya Variabel

Biaya Variabel yang dikeluarkan Perusahaan  adalah :

  1. Biaya Tenaga Kerja                                   Rp 127.200.000
  2. Biaya Bahan Baku                                    Rp   66.310.000
  3. Biaya Bahan Penolong                              Rp        480.000
  4. Biaya Over Head Pabrik

ü  Biaya Reparasi dan Perbaikan            Rp         150.000

Total Biaya Varibel                                                           Rp  194.492.550

±  Biaya Semivariabel

Biaya semivariabel yang dikeluarkan perusahaan adalah:

  1. Biaya Listrik

v  Biaya Tetap       =  Rp   50.700

v  Biaya Variabel   =  Rp 213.800

Jumlah                                    =  Rp 264.500

  1. Biaya Telpon

v  Biaya Tetap       = Rp   30.100

v  Biaya Variabel   = Rp 238.800

Jumlah                   = Rp 268.900

Tabel 4.5

Rincian Biaya Tetap, Biaya Varibel

CV. HARA COLLECTION

Februari 2010

NO KETERANGAN Biaya Tetap Biaya Variabel
1 Biaya Sewa Gedung Rp    708.000
2 Biaya Depresiasi Mesin Rp    279.850
3 Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Mesin Rp        150.000
4 Biaya Tenaga Kerja Rp 6.600.000 Rp 127.200.000
5 Biaya Bahan Baku Rp   66.310.000
6 Biaya Bahan Penolong Rp        480.000
7 Biaya Listrik Rp      50.700 Rp        213.750
8 Biaya Telepon Rp      30.100 Rp        238.800
Jumlah Rp 7.668.650 Rp 194.492.550

4.3   Alokasi Biaya

Pengalokasian biaya disini diperlukan sebagai pembagian biaya-biaya pada setiap jenis pakaian khususnya pada pakaian ukuran (M). Karena disini penulis mengambil pakaian ukuran (M) sebagai obyek penulisan.

Pegalokasian yang dipakai adalah alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode satuan fisik.

Pembobotan alokasi untuk pakaian ukuran S,M dan L

Ukuran Kuantitas Persentase
S 3.000 37,5 %
M 4.000 50 %
L 1.000 12,5 %
8.000 100 %

Setelah diperoleh jumlah persentase setiap jenis pakaian, maka dapat digunakan dalam pengalokasian biaya-biaya yang dipakai.

Tabel 4.6

Alokasi Biaya

No Keterangan Jumlah % Pembebanan

S                         M                      L

( 37,5 % )            ( 50 % )           (12,5 % )

Biaya Tetap
1 Biaya Sewa Gedung Rp   708.000 Rp 265.500 Rp 354.000 Rp 88.500
2 Biaya Depresiasi Mesin Rp   279.850 Rp 104.944 Rp 139.925 Rp 34.981
3 Biaya Listrik Rp     50.700 Rp   19.012 Rp   25.350 Rp   6.338
4 Biaya Telpon Rp     30.100 Rp   11.287 Rp   15.050 Rp   3.763
Jumlah Biaya Tetap Rp 1.068.650 Rp 400.743 Rp 519.275 Rp 133.582
Biaya Variabel
1 Biaya Bahan Baku Rp 66.310.000 Rp 24.866.250 Rp 33.155.000 Rp   8.288.750
2 Biaya Tenaga Kerja Rp 127.200.000 Rp 47.700.000 Rp 63.600.000 Rp 15.900.000
3 Biaya Bahan Penolong Rp        480.000 Rp      180.000 Rp      190.000 Rp        60.000
4 Biaya Reparasi Mesin Rp        150.000 Rp        56.250 Rp        75.000 Rp        18.750
5 Biaya Listrik Rp        213.750 Rp        80.156 Rp      106.875 Rp        26.719
6 Biaya Telpon Rp        238.800 Rp        89.550 Rp      119.400 Rp        29.850
Jumlah Biaya Variabel Rp 194.492.550 Rp 72.992.206 Rp 97.246.275 Rp 24.324.069

Dalam hal ini penulis mencoba mengambil data pakaian ukuran (M) sebagai obyek penulisan.

Berikut tabel perincian biaya untuk pakaian ukuran (M) dengan persentase alokasi sebesar 50 %.

Tabel 4.7

Rincian Biaya Tetap, Biaya Varibel Setelah Pengalokasian

CV. HARA COLLECTION

Februari 2010

NO KETERANGAN Biaya Tetap Biaya Variabel
1 Biaya Sewa Gedung Rp    354.000
2 Biaya Depresiasi Mesin Rp    139.925
3 Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Mesin Rp          75.000
4 Biaya Tenaga Kerja Rp   63.600.000
5 Biaya Bahan Baku Rp   33.155.000
6 Biaya Bahan Penolong Rp        190.000
7 Biaya Listrik Rp     25.350 Rp        106.875
8 Biaya Telpon Rp     15.050 Rp        119.400

Jumlah

Rp    519.275 Rp   97.246.275

4.4 Perhitungan Harga Jual Menurut Perusahaan

Tabel 4.8

Total Biaya Produksi

BIAYA PRODUKSI

TOTAL

Biaya Bahan Baku Rp 33.155.000
Biaya Bahan Penolong Rp      190.000
Biaya Tenaga Kerja Rp 63.600.000

JUMLAH

Rp 96.945.000

Harga pokok produksi            =          Rp 96.945.000

Laba yang diharapkan (10%)  =          Rp   9.694.500

Harga jual                                =          Rp 106.639.500

Harga Jual per unit = Rp 106.639.500/ 4000 unit =   Rp 26.650

=   Rp 27.000 (dibulatkan)

4.5 Perhitungan Laba Februari  2010

Dibawah ini data penjualan dan biaya CV. HARA COLLECTION pada Bulan Februari 2010 dengan asumsi harga dan biaya yang terjadi adalah tetap :

Tabel 4.9

Data Penjualan dan Biaya

Februari 2010

Keterangan

Jumlah

Volume Penjualan 4.000 unit
Harga Jual per Unit Rp       27.000
Biaya Variabel per Unit Rp       24.300
Biaya Tetap per Bulan Rp     519.275

Dari data di atas kita dapat membuat laporan Laba/Rugi pada bulan Februari 2010 sebagai berikut :

Tabel 4.10

Laporan Laba / Rugi

CV. HARA COLLECTION

Februari 2010

Keterangan

Jumlah

Volume Penjualan 4.000  Unit
Harga Jual per Unit Rp          27.000
Total Penjualan Rp 108.000.000
Biaya Variabel Rp  97.246.275
Laba Kotribusi Rp  10.753.725
Biaya Tetap Rp       519.275
Laba Bersih Rp  10.234.450

4.6 Perhitungan Break Even Point

Dalam menjalankan usahanya maka perusahaan sudah seharusnya mengtahui pada tingkat penjualan berapakah perusahan tidak mengalami kerugian dan dalam hal ini juga tidak mendapat keuntungan dari hasil penjualannya. Kondisi yang seperti ini lebih dikenal dengan keadaan Break Even Point (BEP). BEP sendiri dapat ditentukan dalam satuan unit maupun rupiah (Rp). Untuk itu dapat dicari dengan rumus :

Rumus :

Biaya Tetap

  • BEP (Unit)    =

Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per unit

Biaya Tetap

  • BEP (Rp)      =

Biaya Variabel per unit

1

Harga Jual per Unit

519.275

BEP (Unit)  =                                                                     =  192 Unit

27.000  –  24.300

519.275

BEP (Rp)     =                                                         =         Rp 5.192.750

24.300

1    –

27.000

Pembuktian :

Penjualan                           ( 27.000 x 192 )                          Rp 5.184.000

Biaya Var.      ( 24.300 x 192 )                 Rp 4.664.725  ( – ) (dibulatkan)

Laba Kotribusi                   Rp    519.275

Biaya Tetap                                             Rp    519.275  ( – )

Rp        0

Jadi CV. HARA COLLECTION mengalami keadaan impas (BEP) pada saat menjual produk sebanyak 192 unit atau pada saat penjualan sebesar               Rp 5.912.750.

Berikut grafik BEP dan laba yang diperoleh oleh CV. HARA COLLECTION pada bulan Februari 2010 yang mencapai Rp 10.234.450

Gambar 4.1

Grafik Laba Bulan Februari 2010

V c

Laba

Tc

BEP

Fc

4.7 Perhitungan Margin of Safety

Data impas dan laba diatas dapat digunakan untuk mencari  Margin of Safetynya atau titik dimana voleme penjualan maksimum boleh turun namun perusahaan tidak menderita kerugian. Berikut perhitungan Margin of Safety untuk CV. HARA COLLECTION bulan Februari 2010

Rumus :

MoS (Rp)    =         Penjualan Yang Dianggarkan – Penjualan BEP

=          Rp  108.000.000  –  Rp 5.192.750

=          Rp  102.807.250

Penjualan Yang Dianggarkan – Penjualan BEP

MoS (%) =                                                                                            100 %                                                  Penjualan Yang Dianggarkan

Rp  108.000.000 –  Rp  5.192.750

=                                                                     x 100%

Rp  108.000.000                                                                                 =          95 %

Jadi dapat dilihat bahwa perusahaan boleh mengalami penurunan volume penjualan sebesar 95 % atau sebesar Rp 102.807.250 tanpa mengalami kerugian dalam bulan Februari 2010.

4.8 Perhitungan Shut Down Point

Shut Down Point adalah titik dimana perusahaan sebaiknya menghentikan usaha karena untuk menutup biaya tunai tahun berjalan, perusahaan sudah tidak mampu lagi. Berikut titik dimana Shut Down Point berada :

Rumus :

Biaya Tetap Tunai

Shut Down Point =

Contribusi Margin Rasio

Margin Kotribusi

Contribusi Margin Rasio      =                                              x 100%

Penjualan

Rp   10.753.725

= x 100%

Rp 108.000.000

=        9,9 %                 =  10 % (dibulatkan)

Biaya Tetap Tunai

Shut Down Point =

Contribusi Margi Rasio

Tabel 4.11

Data Biaya Tetap Langsung CV.HARA COLLECTION

Februari 2010

NO KETERANGAN Biaya Tetap
1 Biaya Sewa Gedung Rp    354.000
2 Biaya Listrik Rp      25.350
3 Biaya Telpon Rp      15.050

Jumlah

Rp    394.400

Biaya Tetap Tunai

Shut Down Point =

Contribusi Margi Rasio

394.400

=                                  =          Rp 3.944.000

10 %

4.9 Laba Bersih Sasaran

Dalam setiap kali perputaran produksi setiap perusahaan mengharapkan kenaikan pada laba bersih. CV. HARA COLLECTION  mengharapkan kenaikan pada laba bersih sebesar  30%  dari laba bersih bulan Februari 2010 maka volume penjualan berubah menjadi :

Kenaikan Laba yang diingikan   = 30% x Laba Bersih Bulan Februari 2010

= 30% x Rp 10.234.450

= Rp 3.070.335

Maka laba yang diharapkan terjadi = Kenaikan Laba + Laba Bersih Februari 2003

Di bulan Maret 2010                       = Rp 3.070.335 + Rp 10.234.450

= Rp 13.304.785

Jadi Perusahaan Harus melakukan penjualan sebesar :

Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + laba Bersih bulan Maret 2003

Rp 27.000 X   = Rp  24.3000 X +  Rp 519.275 + Rp 13.304.785

Rp   2.700 X   = Rp 13.824.060

X                     =  5.120 Unit

Keterangan  :

X  =  Jumlah unit yang harus dijual untuk mendapatkan laba besih sasaran

Pembuktian :

Penjualan                           ( 27.000 x 5.120 )                       Rp 138.240.000

Biaya Var.                  ( 24.300 x 5.120 )              Rp 124.416.900     _

Laba Kotribusi                                                    Rp   13.824.000

Biaya Tetap                                                         Rp        519.275 _

Laba Bersih                                                                                 Rp   13.304.725
Dengan kenaikan laba yang dinginkan perusahaan sebesar 30% maka volume penjualan yaitu  akan meningkat sebesar :
Penjualan bulan Maret  2010 –  Penjualan bulan Februari  2010
= 5.120 unit –  4000 unit = 1.120 Unit

Kenaikan laba sebesar 30 % dipilih oleh peusahaan karena dianggap kenaikan tersebut dapat dilakukan dengan alasan :

  1. Kapasitas produksi perusahaan sebesar 8.000 unit perbulan
  2. Daerah pemasaran yang akan diperluas keluar Jakarta
  3. Produk yang dihasilkan memiliki keunikan berupa bordiran yang dilakukan dengan tangan yang tidak dimiliki oleh produk sejenis dari perusahaan lain, dan perusahaan berpendapat produknya akan dapat bersaing dengan produk sejenis yang diproduksi oleh perusahaan lain.

Berikut grafik BEP dan perencanaan laba yang diperoleh CV. HARA COLLECTION pada bulan Maret 2010 sebesar Rp 13.304.785 dengan penjualan sebesar Rp 138.240.000

Gambar 4.2

Grafik Laba Bulan Maret 2010

V c

Laba

Tc

BEP

Fc

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis-analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa CV. HARA COLLECTION untuk bulan Februari 2010 akan berada pada titik impas saat volume penjualan sebesar 192 pakaian dengan pendapatan penjualan sebesar        Rp 5.192.750.

Jika perusahaan ingin memperoleh laba, volume penjualan dan pendapatan perusahaan harus melebihi dari titik impas dan posisi penjualan harus lebih besar dari nilai Shut Down Point yang besarnya,yaitu Rp 3.944.000.

Dalam pejualan ternyata perusahaan dapat terjadi penurunan volume penjualan, namun dalam hal ini CV. HARA COLLECTION hanya dapat melakukan penurunan penjualan sampai titik penjualan sebesar Rp 102.807.250 agar tidak mengalami kerugian.

Jika perusahaan ingin memperoleh laba sebesar 30% dari laba bersih bulan Februari 2010, maka perusahaan harus menjual produknya sebesar                      Rp 138.240.000 atau sebanyak 5.120 pakaian.

5.2 Saran

CV. HARA COLLECTION sebaiknya pada periode yang akan datang dapat bertahan pada tingkat penjualan yang telah ditetapkan, agar tingkat harga yang di pasang tidak terlalu tinggi sehingga konsumen tidak berpaling ke produk yang lain.

Selain itu perusahaan dalam melakukan kegiatan produksinya  apabila terjadi masalah seperti pendapatan penjualan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan produksi, maka perusahaan tersebut harus menghentikan kegiatan produksinya.

Perusahaan juga harus meningkatkan Margin of Safety yang berguna dalam hal mencapai atau menjaga keamanan perusahaan agar lebih terjamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: