Archive for April, 2010

Artikel Akuntansi

April 30, 2010

Akuntansi Penjualan Angsuran

2.1 Pengertian Penjualan Angsuran

Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayarannya dilaksanakan secara bertahap, yaitu :

  1. Pada saat barang-barang diserahkan kepada pembeli, maka penjual menerima pembayaran pertamanya yang merupakan sebagian dari harga penjualan, yang disebut dengan Down Payment.
  2. Sedanglan sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran.

(Harnanto, hal 109).

Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan berdasarkan rencana pembayaran yang ditangguhkan, dimana pihak penjual menerima uang muka (DP) dan sisanya dibayarkan dalam bentuk pembayaran cicilan selama waktu beberapa tahun. (Allan R Debbrin, 1991, hal 121).

Penjualan angsuran adalah penjualan yang pembayarannya diterima beberapa kali angsuran periodik selama jangka waktu beberapa bulan atau tahun. (Dewi Ratnaningsih, 1993, 123).

Dari ketiga definisi diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan penjual dimana pembayarannya dilakukan secara bertahap yaitu pada saat barangnya diserahkan kepada pembeli, penjual menerima Down Payment dan sisanya dibayar beberapa kali angsuran selama beberapa bulan atau tahun.

Penjualan angsuran dan penjualan kredit sebenarnya tidak sama. Karena pembayarannya sama-sama dilakukan tidak secara tunai, maka penjualan angsuran dan penjualan kredit dianggap sama.

Adapun perbedaan penjualan angsuran dan penjualan kredit adalah sebagai berikut :

  1. Periode penjualan angsuran lebih lama yaitu 6 bulan – 5 tahun daripada penjualan kredit biasa (umurnya 30 hari – 60 hari).
  2. Pada kredit biasa, perbandingan hak milik barang kepada pembel langsung terjadi pada saat transaksi penjualan, tetapi hal tersebut tidak terjadi pada penjualan angsuran.
  3. Resiko kerugian tidak tertagihnya piutang dan biaya penagihan piutang akan lebih besar jumlahnya pada penjualan angsuran daripada penjualan kredit biasa.
  4. Dalam pejualan angsuran biasanya dibuat perjanjian antara pembeli dengan penjual sehingga penjual tidak dirugikan terlalu besar jika terjadi pemilikan kembali terhadap barang yang telah dijual secara angsuran.

2.2  Pengertian Bunga

Bunga adalah sejumlah uang yang dibayarkan sebagai kompensasi terhadap apa yang dapat diperoleh dari penggunaan uang tersebut. (Bambang Riyanto, 105)

Perbedaan bunga dengan laba antara lain bunga merupakan pendapatan yang diakui oleh perusahaan sedangkan laba adalah uang yang diakui dari pendapatan setelah dikurangi biaya-biaya untuk operasional perusahaan.

2.3  Pengertian Piutang

Sisi lain dari penjualan angsuran adalah timbulnya piutang. Ini berarti perusahaan mempunyai hak klaim terhadap seseorang atau badan usaha lain. Dengan adanya hak klaim ini perusahaan dapat menuntut pembayaran dalam bentuk uang penyerahan aktiva lain kepda pihak yang berhutang.

Menurut Zaki Baridwan dalam buku intermediate accounting ( 1992;124 ) :

Piutang dapat diklasifikasikan dalam tiga bagian, yaitu :

  1. Piutang dagang ( usaha )
  2. Piutang bukan dagang
  3. Piutang penghasilan

Kadang-kadang piutang bukan dagang dan piutang penghasilan digabung menjadi satu dan dinamakan piutang lain-lain.

Piutang dagang menunjukkan piutang yang timbul dari penjualan barang-barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Untuk piutang yang timbul bukan dari penjualan barang-barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan, tidak termasuk dalam kelompok piutang dagang tetapi dikelompokkan tersendiri dalam piutang bukan dagang ( bukan usaha ). Contoh dari piutang bukan usaha antara lain :

  • Klaim terhadap perusahaan pengangkutan untuk barang-barang rusak / hilang
  • Klaim terhadap perusahaan asuransi atas kerugian-kerugian yang dipertanggungkan.
  • Piutang deviden.
  • Piutang pesana pembelian saham, dll.

Penggunan dasar waktu ( accrual basis ) dalam akuntansi mengakibatkan adanya pengakuan terhadap penghasilan-penghasilan seperti itu diperoleh atas dasar waktu sehingga pada akhir periode dihitung berapa jumlah yang sudah menjadi pendapatan dan jumlah tersebut dicatat sebagai piutang penghasilan. Contohnya antara lain :

  • Piutang pendapatan bunga
  • Piutang pendapatan sewa, dll.

2.4 Pembatalan Kontrak Penjualan Angsuran dan Kepemilikan Kembali.

Apabila pihak pembeli tidak dapat menyelesaikan kewajiban atas saldo piutang angsurannya (sesuai dengan kontrak), pihak penjual berhak untuk menarik kembali barang dagang yang telah dijual dari si pembeli. Jika terjadi hal demikian maka pihak penjual melakukan tindakan sebagai berikut :

  1. Menilai barang-barang yang ditarik kembali dengan nilai wajar.
  2. Mencatat pemilikan kembali.
  3. Menghapus saldo perkiraan piutang usaha angsuran.
  4. Menghapus saldo perkiraan laba kotor yang ditangguhkan.
  5. Mencatat rugi dari pemilikan kembali.

Jika perusahaan menggunakan system fisik (physical inventory system) di dalam mencatat persediaan barang dagang, maka perkiraan “Persediaan barang dagang – Pemilikan kembali” merupakan perkiraan nominal dan  akan dicantumkan pada perhitungan rugi laba sebagai penambahan dan pembelian barang dagang. Tetapi jika perusahaan menggunakan system balans permanen (perpetual system) perkiraan tersebut akan menambah persediaan barang dagang pada kartu stock.

Namun adakalanya hak penjual untuk menarik kembali barang yang telah dijual tersebut merupakan cara yang kurang tepat dalam usaha untuk mengurangi resiko kerugian yang dapat terjadi. Hal ini disebabkan karena nilai barang yang dijual turun lebih cepat dari saldo piutangnya, sehingga pemilikan kembali barang tersebut tidak dapat menutup kerugian tidak tertagih saldo piutang tersebut. Untuk mengurangi atau menghindari kerugian yang terjadi dalam pemilikan kembali, maka harus diperhatikan: (Dewi Ratnaningsih, Akuntansi Lanjutan, 1993, 124)

  1. Jumlah uang muka dan pembayaran-pembayaran angsuran berikutnya, harus cukup  untuk  menutup semua kemungkinan terjadinya penurunan nilai barang yang dijual.
  2. Periode pembayaran angsuran jangan melebihi umur ekonomisdari barang yang dijual. Hal ini terutama penting untuk barang-barang yang bersifat musiman dan barang-barang yang dipengaruhi oleh mode.

2.5  Penetapan Harga Penjualan Angsuran

Pada dasarnya diitempuhnya suatu penjualan angsuran adalah karena terlihatnya perbadaan yang cukup jelas antara penjualan tunai dengan penjualan angsuran hal ini dapat dilihat jelas pada harga jualnya. Perbedaan antara harga penjualan tunai dengan harga penjualan angsuran ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor berikut :

1. Resiko

Kontrak penjualan angsuran menawarkan persetujuan kredit yang longgar mampu menarik banyak konsumen. Namun disamping itu dengan periode pembayaran yang relative panjang, kemampuan membayar konsumen bisa saja berubah, itulah sebabnya perlu dilakukan perjanjian terlebih dahulu khususnya untuk penjualan terhadap barang-barang yang tidak bergerak.

Untuk mengantisipasi terjadinya kerugian dalam kepemilikan kembali maka penjual perlu memperhatikan beberapa hal tersebut :

  1. Besarnya uang muka harus cukup untuk menutup semua kemungkinan terjadinya penurunan harga barang dari semula barang baru menjadi barang bekas.
  2. Jangka waktu pembayaran diantara angsuran yang satu dengan yang lain hendaknya tidak terlalu lama, jika dapat tidak lebih dari satu bulan.
  3. Besarnya pembayaran angsuran berkala harus diperhitungkan cukup untuk menutup kemungkinan penurunan nilai barang yang ada selama ada jangka waktu yang satu dengan pembayaran yang berikutnya.

2. Bunga / Interest

Adanya perbedaan waktu antara saat penyerahan uang atau barang dan jasa dengan pembayaran berkala yang secara prinsip ekonomi harus dikenakan bunga atau interest. Biasanya bunga terakhir sudah dimasukkan dalam perhitungan total pembayaran angsuran, namun yang perlu diperhatikan adalah dasar yang digunakan untuk penetapan besarnya bunga yang berlaku untuk sekedar investasi, tetapi untuk sekedar perdagangan.

2.6  Pengakuan Laba Kotor dalam Penjualan Angsuran

Pengakuan laba kotor dalam penjualan angsuran dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :

1        Laba Kotor diakui pada saat penjualan (Accural Basis)

Pada cara ini transaksi penjualan angsuran diperlakukan seperti halnya transaksi penjualan kredit. Laba kotor yang terjadi diakui pada saat penyerahan barang dengan ditandai oleh timbulnya piutang / tagihan kepada pelanggan.

Berikut ini adalah pencatatan jurnal laba kotor :

  1. Jika barang dagang dijual secara angsuran , maka perusahaan akan mendebit piutang usaha angsuran dan mengkredit hasil penjualan angsuran tersebut. Selisihnya akan direalisasi pada periode yang sama terjadinyapenjualan angsuran tersebut.

Jurnalnya sebagai berikut :

Piutang usaha angsuran                                   xxx

Penjualan angsuran                                         xxx

    1. Jika dipergunakan system balans permanen (perpetual inventory system), maka jurnalnya ditambah dengan mendebit perkiraan harga pokok penjualan angsuran dan mengkredit perkiraan persiadaan barang dagang.

Jurnalnya sebagai berikut :

Piutang usaha angsuran                                   xxx

Penjualan angsuran                                         xxx

Harga pokok penjualan angsuran                    xxx

Persediaan barang dagang                              xxx

    1. Jika terjadi beban tak tertagihnya piutang  dan lain sebagainya, perkiraan bebannya didebit dan mengkredit perkiraan penilaian asset seperti Penyisihan biaya penjualan penjualan angsuran dan Penyisihan piutang angsuran.

Jurnalnya sebagai berikut :

Beban usaha                                                    xxx

Penyisihan piutang angsuran/                          xxx

Penyisihan biaya penj. angsuran                     xxx

    1. Jika pada periode berikutnya beban penjualan angsuran tersebut terjadi, penyisihan tersebut akan didebit, dan kas yang dikeluarkan serta saldo piutang usaha yang tidak tertagih akan dikredit.

Jurnalnya sebagai berikut :

Penyisihan piutang angsuran/

Penyisihan biaya penj. angsuran                     xxx

Kas                                                                  xxx

Piutang usaha angsuran                                   xxx

  1. Laba Kotor dihubungkan dengan periode-periode terjadinya realisasi penerimaan kas (Cash Basis)

Pada cara ini laba kotor yang diakui sesuai dengan jumlah uang kas dari penjualan angsuran yang direalisasikan dalam periode-periode yang bersangkutan. Prosedur ini biasanya digunakan untuk kontrak-kontrak penjualan yang jangka waktunya melampaui satu periode akuntansi. Prosedur mana yang akan dipakai harus benar-benar dipertimbangkan sesuai dengan rencana penjualan angsuran yang ada, sehingga akan benar-benar cocok dengan kehendak dalam mengukur laba (rugi) yang akan terjadi.

Dalam metode ini laba kotor diakui sesuai dengan realisasi penerimaan kas dari penjualan angsuran yang diterima pada periode akuntansi yang bersangkutan.

Berikut ini adalan pencatatan jurnalnya :

  1. Jika barang dagang dijual secara angsuran, dan jika perusahaan menggunakan system fisik dalam pencatatan persediaanya, maka perusahaan akan mendebit perkiraan piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan penjualan angsuran.

Jurnalnya sebagai berikut :

Piutang usaha angsuran                                         xxx

Penjualan angsuran xxx

  1. Jika perusahaan menggunakan system balans permanen, selain jurnal  tersebut diatas ditambah jurnal pengakuan harga pokok penjualan angsuran tersebut.

Jurnalnya sebagai berikut :

Piutang usaha angsuran                                         xxx

Penjualan angsuran xxx

Harga pokok penj. angsuran                                 xxx

Persediaan barang dagang                                          xxx

  1. Penagihan piutang usaha angsuran akan dicatat dengan mendebit perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang usaha angsuran.

Jurnalnya sebagai berikut :

Kas                                                                        xxx

Piutang usaha angsuran                                               xxx

Pada akhir periode, saat dilakukan jurnal penyesuaian akan dicatat mengenai tiga hal, sebagai berikut :

  1. Mencatat harga pokokpenjualan angsuran. Perkiraan pengiriman barang penjualan angsuran merupakan perkiraan rugi laba atau perkiraan nominal dan harus ditutup ke perkiraan laba/rugi.

Jurnalnya sebagai berikut :

Harga pokok penj. angsuran                                       xxx

Pengiriman barang penj. angsuran                              xxx

Jurnal ini dilakukan jika perusahaan menggunakan system fisik, jika perusahaan menggunakan system balans permanen maka jurnal ini tidak diperlukan karena pengakuan harga pokok penjualan angsuran telah dilakukan pada saat terjadinya penjualan angsuran tersebut.

  1. Mencatat laba kotor yang ditangguhkan.

Jurnalnya sebagai berikut :

Penjualan angsuran                                                     xxx

Harga pokok penj. angsuran                                       xxx

Laba kotor yang ditangguhkan                                   xxx

Jurnal penyesuaian ini berlaku baik untuk system fisik maupun balans permanen.

  1. Mencatat realisasi laba kotor atas penerimaan kas dari hasil penjualan angsuran.

Jurnalnya sebagai berikut :

Laba kotor yang ditangguhkan                                   xxx

Laba kotor yang direalisasi                                         xxx

Laba kotor yang ditangguhkan adalah selisih antara penjualan angsuran dengan harga pokoknya. Laba kotor yang ditangguhkan akan direalisasi pada saat penerimaan tagihan piutang usaha angsuran yaitu dengan mengalikan persentase laba kotor dengan tagihan yang diterima dari piutang usaha angsuran tersebut.

Untuk menghitung persentase laba kotor adalah membagi laba kotor yang ditangguhkan dengan penjualan angsuran yang bersangkutan dan hasilnya dikalikan dengan 100 %, atau dengan membagi laba kotor yang ditangguhkan dengan piutang usaha angsuran pada saat yang sama dan hasilnya dikalikan 100%.

artikel akuntansi

April 30, 2010

Break Event Point

2.1.1    Pengertian Break Event Point

Menurut beberapa ahli :

Break Event Point adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan atau revenue (penghasilan) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Dan analisis Break Event adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain sama dengan nol). (Mulyadi,2001:230)

Break Even Point adalah kondisi perusahaan tidak laba dan tidak rugi, dengan mengetahui Break Even Point dimana perusahaan akan meningkatkan penjualan diatas break even point untuk mendapatkan laba dan menghindarkan penjualan dibawah Break Even Point karena akan menderita rugi. (Armila Krisna Warindrani,2006;7)

Break Even Point adalah Posisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. BEP atau titik impas sangat penting bagi manajemen untuk mengambil keputusan untuk menarik produk atau mengembangkan produk, atau untuk menutup anak perusahaan yang profit center atau mengembankannya.(Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:121)

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut penulis menyimpulkan bahwa Break Even Point adalah suatu cara yang mempelajari hubungan keseimbangan antara biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan suatu tingkat penjualan sama dengan penghasilan.

2.1.2    Manfaat Break Even Point

Menurut Soehardi Sigit,(2002;2), Analisis Break even point dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran dan tujuan perusahaan.

Manfaat lainnya antara lain :

  1. Sebagai dasar atau landasan merrencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai tujuan tertentu. Jadi sebagai alat perencanaan laba.
  2. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual yaitu setelah diketahui hasil perhitungannya menurut analisis Break Even dan laba yang ditargetkan.
  3. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan yang harus dilakukan oleh seorang manager.

2.1.3    Tujuan Titik Impas ( BEP )

Tujuan titik impas adalah :

  1. Mencari tingkat aktivvitas dimana pendapatan sama dengan biaya.
  2. Menunjukan suatu sasaran volume penjualan minimal yang harus diraih.
  3. Memungkinkan perusahaan mengetahui apakah mereka beroperasi dekat atau jauh dari titik impas

2.1.4   Asumsi-asumsi Dalam Analisa Break even point

Menurut Soehardi Sigit,(2002;2) di dalam menganalisa Break Even termasuk menghitung dan mengumpulkan angka-angka yang dihitung itu, analisa Break Even menetapkan syarat-syarat tertentu. Jika syarat-syarat itu tidak ada dalam kenyataan, maka harus diadakan atau dianggap ada seperti dipersyaratkan. Jadi jika syaratnya tidak ada, dapat dianggap ada. Inilah yang disebut asumsi, dan asumsi-asumsi yang diperlukan agar dapat menganalisa Break Even ialah :

  1. Bahwa biaya-biaya yang terjadi didalam  perusahaan yang bersangkutan (yang dihitung Break Even-nya) dapat di-identifikasikan sebagai biaya variable, atau sebagai biaya tetap. Biaya-biaya yang meragukan apakah sebagai biaya variable ataukah sebagai biaya tetap harus tegas tegas dimasukan kedalam variable atau tetap.Biaya semi variable dimasukan ke dalam biaya variable,biaya semi tetap dimasukan ke dalam biaya tetap.
  2. Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya tetap itu akan tetap konstan, tidak mengalami perubahan meskipun volume produksi atau volume kegiatan berubah.
  3. Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya variabel itu akan tetap sama jika dihitungbiaya per unit produknya, berapapun kuantitas unit yang diproduksikan. Jika kegiatan produksi berubah, biaya variabel itu berubah proposional dalam jumlah seliruhnya, sehingga biaya per unitnya akan sama.
  4. Bahwa harga jual per unit akan tetap saja, berapapun banyak unit produk yang dijual. Harga jual per unit tidak akan turun meskipun pembeli membeli banyak. Juga sebaliknya harga jual per unit tidak akan naik, meskipun langganan pembeli hanya sedikit. Sedikit ataupun banyak yang dibeli, harga per unit tidak akan mengalami perubahan.
  5. Bahwa ada sinkronisasi di dalam perusahaan yang bersangkutan menjual atau memproduksi hanya satu jenis barang. Jika ternyata lebih dari satu jenis produk, maka produk tersebut harus dianggap satu jenis produk dengan kombinasi yang selalu tetap.

2.1.5    Pengertian Biaya

Pengertian biaya menurut para ahli sebagai berikut :

Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.(Mulyadi, 2009;8)

Biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan  untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang. ( Darsoni Prawironegoro&Ari Purwanti, 2008;49)

Jadi biaya merupakan total pengorbanan sumber daya yang sudah terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Biaya sering diartikan sebagai pengurang asset yang mengakibatkan berkurangnya ekuitas pemilik, tetapi bukan karena pengurangan atau pengambilan model oleh pemilik perusahaan dan bukan pula merupakan asset yang disebabkan karena berkurangnya liability.

2.1.6    Penggolongan Biaya

Penggolongan biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu manajemen dalam mencapai tujuannya. Ada beberapa jenis biaya menurut buku Mulyadi (2009;13) diantaranya adalah :

  1. Jenis biaya berdasarkan objek pengeluaran

Nama objek pengeluaran digunakan sebagai dasar dalam penggolongan biaya.

  1. Biaya Menurut fungsi pokok produksi

Seperti dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan  fungsi administrasi dan  umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur adalah biaya produksi, biaya pemasaran, biayaadministrasi dan umum.

  1. Biaya Menurut Hubungan biaya dengan sesuatu yang di biayai

Biaya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

  1. Biaya langsung
  2. Biaya tidak langsung
  1. Biaya menurut perilakunya dalam Hubungannya dengan perubahan volume aktifitas

Biaya dapat digolongkan menjadi :

1) Biaya variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan sebagainya.(Mulyadi, 2009;15)

2) Biaya semivariabel

Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsure biaya tetap dan unsure biaya variabel. Contoh biaya semi variabel adalah biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap, biaya listrik, dan sebagainya.(Mulyadi, 2009;15)

3) Biaya semifixed

Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu. .(Mulyadi, 2009;15)

4) Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap antara lain gaji direktur produksi. .(Mulyadi, 2009;15)

  1. Biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya

Biaya dapat dibagi menjadi dua :

  1. 1. Pengeluaran Modal

Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal ini biasanya dibebankan sebagai cost aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didpresiasi, diamortisasi atau didplesi. Contoh pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian aktiva tetaap, unntuk promosi besar-besaran, untuk reparasi besar terhadap active tetap, dan pengembangan suatu produk.

  1. 2. Pengeluaran pendapatan

Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunya manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Pada saat terjadinya pengeluaran pendapata ini dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya tersebut. Contohnya seperti biaya iklan, biaya telex, dan sebagainya.

2.2       Alat Analisa

2.2.1    Standard teori Break Even Point untuk produk beragam (multi produk)

Perusahaan yang memproduksi barang lebih dari satu produk cenderung mengalami kesulitan dalam menentukan berapa besar proporsi yang harus dibebankan pada tiap produk yang dihasilkan sehingga dalam suatu analisa BEP dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan optimal. Selama ini ada beberapa dasar pendapat yang dijadikan dasar perbandingan penenteuan BEP pada perusahaan yang produksinya beragam. “Apabila perusahaan itu membuat lebih dari satu jenis produk maka harus diperlakukan seperti membuat suatu jenis barang“(Soehardi Sigit, 2002;30)

Dari teori diatas dapat dikatakan bahwa pengalokasikan setiap biaya harus seimbang dengan pengorbanan yang dikeluarkan untuk masing-masing produk sehingga tidak terjadi pembebanan yang terlalu besar terhadap salah satu jenis produk tertentu sehingga biaya harus dipisahkan sesuai dengan jenis biaya tersebut. Apabila biaya tetap dan biaya variabel untuk setiap jenis produk dapat dipisahkan maka akan dapat diketahui batas kontribusi untuk setiap produk terhadap laba perusahaan.

2.2.2    Pendekatan Matematis

Dalam penentuan impas dengan tekhnik matematis kita dapat menggunakan pendekatan Margin Contribusi. Dimana pengertian dan perhatian yang lebih besar terhadap Margin contribusi sangat diperlukan sekali, karena dengan cepat pula kita dapat membuat suatu keputusan dan sebagai titik awal dari keputusan-keputusan berikutnya atau didalam pembahasan soal-soal manajemen akuntansi.(Mulyadi, 2001;232)

Dalam analisis Break Even Point terdapat dua jenis kontribusi yaitu sebagai berikut :

a)                  Margin kontribusi dalam unit

Harga jual – Biaya variabel per unit

b)                  Margin kontribusi dalam persen

Harga jual (persen) –Biaya variabel (persen)

Dengan Contribution Margin Ratio dan Contribution Margin unit, Dengan demikian cara perhitungan Break Even Point apabila produk yang dihasilkan lebih dari satu produk dapat dihitung dengan  rumus :

Proposisi adalah proposisi penjualan yang direncanakan atas produk A, B, dan C.

2.2.3    Menghitung Penjualan Untuk Mendapatkan Laba

Tujuan perusahaan pada umumnya adalah mencapai laba optimal sesuai kemampuan perusahaan. Oleh karena itu untuk menccapai laba optimal tersebut, perlu disususn perencanaan laba agar kemampuan yang dimiliki perusahaan dapat dikerahkan secara terkoordinasi dalam mencapai tujuan tersebut. Perencanaan laba yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mencapai laba optimal.

Jika penjualan pada Break Even Point diketahui, maka untuk mendapatkan laba yang diinginkan dapat ditentukan dengan dua cara :

  1. Apabila laba sama dengan nol

Penjualan   = Biaya Variabel + Biaya Tetap + laba

  1. Jika menginginkan laba tertentu

Rumus yang disajikan diatas khusus untuk kegiatan usaha apabila produk yang disajikan berupa produk tunggal. Namun dapat juga apabila produk yang dihasilkan lebih dari satu macam yaitu melalui sales mix dimana dianggap proporsi hasil penjualan untung masing-masing produk konstan dengan Break Even secara keseluruhan.

2.2.4    Laba Jangka Pendek

Rencana laba jangka pendek adalah program kerja manajemen untuk memperoleh laba pada setiap transaksi bisnis, bulanan, triwulanan, semesteran, dan paling lama per satu tahun.( Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:125)

Menurut Darsono dan Ari, laba jangka pendek dapat didekatidengan berbagai cara yaitu :

  1. Titik Impas (Break Even Point)

Titik impas adalah informasi tentang penjualan yang hanya bias untuk menutup biaya variabel dan biaya tetap saja, sehingga perusahaan tidak mendapatkan laba dan tidak menderita rugi. ( Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:125)

  1. Marjin Keamanan ( Margin of Safety )

Margin of Safety adalah suatu informasi mengenai sampai tingkat berapa perusahaan boleh mengalami penurunan penjualan namun perusahaan tidak mengalami kerugian.Dalam Hal ini semakin besar Margin of Safety makin baik untuk perusahaan karena perusahaan bias mengalami penurunan yang cukup jauh.

Margin of Safety adalah informas tentang jumlah maksimum penurunan nilai penjualan. (Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:125)

Margin of Safety dicaru dengan mengurangi jumlah penjualan pada titik impas,

Semakin besar margin of safety semakin besar perusahaan dapat memperoleh laba dan begitu pula sebaliknya.

Ratio Margin of safety dapat dihubungkan langsung dengan tingkat keuntungan perusahaan yang menggunakan cara sebagai berikut :

Profit % = Margin income ratio x Ratio Margin of safety

  1. c. Titik Penutupan Usaha ( Shut down Point)

Titik penutupan usaha yaitu informasi yang dibutuhkan oleh manajemen tentang berapa jumlah nilai penjualan minimum sehingga perusahaan tidak layak untuk dilanjutkan(harus ditutup). (Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:127)

Dari laporan yang diproyeksikan, manajemen tidak hanya mengingginkan informasi mengenai beberapa jumlah pendapatan penjualan minimum agar perusahaan tidak menderita kerugian dalam tahun anggaran yang akan datang. Suatu usaha tidak layak secara ekonomis untuk dilanjutkan kembali apabila pendapatan penjualan tidak menutupi biaya tunai.

Biaya tunai adalah biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Seperti biaya pemeliharaan, biaya gaji pengawas pabrik dan sebagainya.



resume jurnal akuntansi

April 30, 2010

Nama Jurnal lengkap dengan edisi : Jurnal Riset Akuntansi

Peneliti :

PUTU ARI DHARMA LAKSMI

NI MADE DWI RATNADI

 

Topik, Judul dan bidang penelitian :

DAMPAK PEMODERASIAN KOMPONEN ARUS KAS TERHADAP HUBUNGAN LABA AKUNTANSI DENGAN RETURN SAHAM.

Bidang Penelitian : Pasar Modal

 

Variabel yang digunakan :

Y   = Return Saham

X1= Laba Akuntansi

X2= Arus Kas

 

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui apakah laba akuntansi mempengaruhi return saham.

 

Hasil Penelitian dan Alat Analisis : hasil analisis data dan pembahasan mengenai perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang telah diuraikan sebelumnya  dengan tingkat keyakinan 95% dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap return saham
  2. Arus kas operasi tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham
  3. Arus kas investasi tidak mampu memoderasi hubungan antara laba akuntansi dengan return saham
  4. Arus kas pendanaan tidak mampu memoderasi hubungan anatara laba akuntansi dengan return saham

Alat Analisis menggunakan teknik analisis regresi linier berganda.

  • Peluang Penelitian
  • Penelitian yang mendukung dan yang tidak

Peluang penelitian untuk kedepannya disarankan peneliti menggunakan sample seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan periode penelitian yang lebih  panjang agar hasil penelitian dapat digeneralisasi. Di samping itu, menggunakan variabel terikat yang berbeda, misalnya harga saham serta menambahkan varabel bebas dalam penelitiannya, seperti kinerja keuangan.

April 4, 2010
  • Nama Jurnal lengkap dengan edisi : Jurnal Akuntansi & Keuangan, Vol 7, No. 2, November 2005 : 148-162

Peneliti : -Juniarti

Corolina

Topik, Judul dan bidang penelitian : Analisa Faktor-faktor yang berpengaruh Terhadap Perataan Laba ( Income Smoothing) Pada Perusahaan-Perusahaan Go Public

Variabel yang digunakan : Y= Faktor yang berpengaruh terhadap perataan laba

X1= Profitabilitas

X2= Total Aktiva

Tujuan Penelitian : Untuk mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perataan laba

Hasil Penelitian : Variabel profitabilitas (PRFT) memiliki perbedaan yang siginifikan antara perusahaan perata laba dengan bukan perata laba, sedangkan variabel Total Aktiva(TA) tidak meiliki perbedaan yang signifikan

Peluang Penelitian : Hubungan tindakan perataan laba dengan reaksi pasar atas pengumuman informasi laba perusahaan yang terdaftar di BEJ

P&M. Gudono Assih. 2000

  • Nama Jurnal lengkap dengan edisi : Jurnal Akuntansi /Th IX/02/Mei/2005

Peneliti : Syahril Djaddang

Topik, Judul dan bidang penelitian : Analisis Hubungan Perataan Laba (Income Smoothing) dengan Ekspeksi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEJ

Variabel yang digunakan : Y1= Perataan Laba

Y2= Expected earning

X1= Net earnings

X2= Leverage

X3= Total Asset

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui dan menganalisa hubungan antara perataan laba dan ekspektasi kinerja di masa depan

-  Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh perataan laba terhadap kinerja masa depan perusahaan

Hasil Penelitian : Terdapat hubungan positif antara net earnings, leverage, dan Total Asset dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan

Peluang Penelitian : Perataan laba dalam mengantisipasi laba masa depan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ

Sopa Sugiarto. 2003

  • Nama Jurnal lengkap dengan edisi : Jurnal Riset Akuntansi Indonesia

Peneliti : Igan Budiasih

Topik, Judul dan bidang penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba

Variabel yang digunakan : Y= Faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba

X1= profitabilitas

X2= dividen payout ratio

X3= financial leverage

Tujuan Penelitian : Memberikan Informasi atau pengamatan mengenai ukuran perusahaan terhadap praktik perataan laba

Hasil Penelitian : Ukuran Perusahaan, profitabilitas, dan dividen payout ratio berpengaruh positif signifikan terhadap praktik perataan laba sedangkan financial leverage tidak berpengaruh

signifikan terhadap praktik perataan laba.

Peluang Penelitian : Analisis Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perataan penghasilan atau laba  pada perusahaan yang terdaftar di BEJ

Jatiningrum.2000

  • Nama Jurnal lengkap dengan edisi : Jurnal Riset Akuntansi Universitas Islam Indonesia

Peneliti : Nurul Hasanah

Topik, Judul dan bidang penelitian : Pengaruh Perataan Laba Terhadap Reaksi Pasar Atas Pengumuman Informasi Laba

Variabel yang digunakan : Y1= Perusahaan Perata Laba

Y2= Perusahaan Bukan Perata Laba

X1= Pengumuman Informasi laba

Tujuan Penelitian : Menganalisis apakah terdapat perbedaan reaksi pasar atas pengumuman laba antara perusahaan perata laba dengan perusahaan bukan perata laba

Hasil Penelitian : Jika reaksi pasar atas pengumuman laba ditentukan melalui Cummulative abnormal return selama 5 hari sebelum tanggal pengumuman laba sampaimdengan 5 hari sesudah tanggal pengumuman laba, maka diperoleh hasil tidak dapat perbedaan reaksi pasar antara perusahaan perata laba dengan perusahaan bukan perata laba

Peluang Penelitian : Amalisis pengaruh perataan laba terhadap risiko pasar saham dan return saham perusahaan-perusahaan public di BEJ

M. Nasir dan Anna Arifin. 2002

  • Nama Jurnal lengkap dengan edisi : Jurnal Riset Akuntansi, Vol 2. ISSN : 1858 – 2559

Peneliti : Masodah

Topik, Judul dan bidang penelitian : Praktik Perataan Laba Sektor Industri Perbankan dan Lembaga Keuangan Lainnya dan Faktor yang Mempengaruhinya

Variabel yang digunakan : Y= Praktik perataan laba

X1= Size

X2= Bonus Plan

X3= Debt to equity

X4= Profitabilitas

Tujuan Penelitian : Menginvestigasi praktik perataan laba yang terjadi pada sector industry perbankan dan lembaga keuangan lainnya

Hasil Penelitian : Bahwa sector perbankan dan lembaga keuangan lainnya secara empiris telah melakukan praktik perataan laba. Hal ini terbuktu melalui indeks eckel yang menunjukkan nilai berkisar antara 0-1. Sedang variable yang signifikan mempengaruhi praktik perataan laba untuk sector perbankan dan lemabaga keuangan lainnya adalah variable debt of equity.

Peluang Penelitian : Watt dan Zimmerman, Magnan dan Corner 1978, 1997, Skinner (1993), Jin, Machfood (1998)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.